HIV/AIDS dan Islam men-SIKAP-i-nya
HIV/AIDS dan Islam men-SIKAP-i-nya

|
cinta monyet lo..??
|
30 November 2011 pukul 00.00
Wah, kalo lihat dari judul sepertinya berat sekali bahasan saya kali ini. Beberapa tahun yang lalu, 1 desember dimanfaatkan dengan aksi dengan isu HIV/AIDS. Terakhir, seputar kondom, kalo ga salah seeh. Namun kali ini saya ga bakal membahas tentang kondom, sudah banyak tulisan ttg kondomisasi tsb.
Terinspirasi dari sebuah buku yang menarik perhatian saya di perpustakaan kecil di rumah. Himpunan fatwa MUI, buku tidak diperjual-belikan milik departemen agama RI, itulah judul buku tersebut. Semoga sedikit share ini bermanfaat.
Ga dipungkiri lagi klo Islam ini "rahmatan lil 'alamin", ya ga? Rahmatan lil 'alaamiin dari segi apa pun, termasuk kesehatan. Salah satu tuntutan terhadap umatnya adalah dengan menghindari penyakit, tentunya dengan tindakan preventif. Tapi klo udah kepalang sakit mau apa lagi, itu adalah ujian dari yang Maha Kuasa, anggap aja untuk meningkatkan kualitas keimanan kepada-Nya. Si sakit dituntut berusaha untuk terbebas dari penyakit itu, alias berobat. Berkenaan dengan sakit ini, kita juga dituntut untuk memperhatikan orang yang sedang sakit. Bentuk perhatian terhadap orang yang sedang sakit beragam tentunya, mulai dari mendo'akan, membezuk, sampai pada merawat dan mengobati si sakit(cie...merawatnya di-bold).
Yup, Rahmatan Lil 'alamiin. Apapun penyebab sakitnya, hendaknya si sakit tetap mendapat perhatian khusus dalam masyarakat Islam. Ada sebuah hadist Qudsi yang setelah membacanya, saya semakin bangga dengan profesi yang sedang saya dalami. Beginilah kira2 terjemahannya; " Wahai hamba-Ku, Aku ini sakit, tetapi kamu tidak mau menjenguk dan merawat-Ku. Hamba menjawab, " Bagaimana aku dapat menjenguk dan merawat-Mu sedang Engkau adalah rabbul 'Alamiin'. Allah menjawab, Seorang hamba-Ku sakit, apabila kamu menjenguk dan merawatnya tentu kamu akan menjumpai-Ku di sana."
Awalnya sedikit sulit memahami hadits ini, menurut saya Allah menempatkan orang sakit seolah-olah Dia yang sakit (mudah2an saya ga salah). Trus maknanya apa ya? Apakah mungkin kita memang diajarkan untuk memperhatikan orang yang sakit sehingga mereka tidak merasa terkucilkan?? Terkucilkan secara materil maupun moril. (Lho kok analisanya langsung ke masalh kucil mengucilkan, he...he...) Berdasarkan pengalaman saya merawat pasien HIV/AIDS, mereka memang mendapat perlakuan yang berbeda. Jelas saja, apalagi yang infeksi oppoturnistiknya udah bejubel. Biasanya ruangannya khusus, peralatan khusus, APD (alat proteksi diri, spt sarung tangan, masker) lebih banyak. Jujur saja, pertama kali merawat pasien dengan HIV/AIDS, saya merasakan banyak ketakutan. Walaupun mengetahui sedikit seluk beluk HIV/AIDS (penyebab serta penyebaran), tetap aja kekhawatiran itu ada. Mengingat bahaya penyakit yang satu ini, menular dan parahnya belum ditemukan obatnya. Sampai-sampai saya menganggap semua pasien, adalah HIV/AIDS. Tujuan saya hanya agar selalu waspada, selalu memakai APD,he...he.. maaf ya. Habisnya untuk mendeteksi HIV itu kan butuh waktu (masa-masa tertentu) dan biaya yg tdk sedikit. Hari ini dia tertular, belum bisa dideteksi segera. Biasanya HIV akan ketauan klo penderita sudah AIDS, sistem imunnya menurun (lha kok bingung ya). Biasanya HIV itu digunakan bagi orang yang tertular virus tapi blm menunjukkan gejala penurunan sistem imun. Sedangkan AIDS, penurunan sistem imun mulai kelihatan,spt pasien akan kurus, batuk, diare dsb.Lho kok jadi nyerempet ke sini, ga pa pa lah buat pengetahuan...
Kembali lagi, kenapa mereka terkucilkan? Mungkin karena di satu sisi, orang beranggapan klo Islam menuntut kita untuk menghindari hal yang membahayakan, secara HIV/AIDS kan menular, bahaya gtu lho(dengan aksen fitri tropika). "Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan membahayakan orang lain" sabda Rasul.
Sebenarnya ga perlu setakut itu kalee, sampe mengucilkan mereka. Mereka sama seperti kita lho. Ingat, penularannya adalah melalui media darah. Jadi ingat kata seorang perawat RS yang menangani INOK alias infeksi nosokomial,' Ga ada virus yang menular lewat keringat, adanya lewat darah. Klo keringatnya berdarah baru bisa. Inangnya virus kan darah.' (yang bilang Ibu itu lho bukan saya, he...he.. cari aman) InsyaAllah akan cari tau lebih ttg hal ini.
Hadits Qudsi di atas sudah jelas lho, ga perlu mengucilkan orang sakit, apapun penyebabnya.
Hadits ke-dua lebih cocok kita tempatkan sebagai landasan untuk menghindari penyebab HIV itu sendiri. Waspada itu perlu, tapi bukan dengan mengurangi perlakuan baik kita terhadap si sakit. Jangan pula kita mengorbankan orang lain saking memperhatikan si sakit HIV tadi. Sederhana saja lah... ga boleh berlebihan...peace..
"Menjaga lebih baik dari pada mengobati"
Begitulah kira-kira kalimat yang sering kita dengar, liat atau ga sengaja dengar dan liat. Atau kita lebih familiar dengan " Mencegah lebih baik dari pada mengobati", sama saja. Hanya saja saya lebih suka dengan "menjaga" (narsis nih).
Hampir semua kasus HIV/AIDS yang saya temui penyebabnya adalah dari zina, atau hubungan suami istri dan dari jarum suntik(tambahan info dr teman). Akan tetapi kali saya membahas ttg penyebab dari zina. Nah, ada sabda Rasul nih, "Apabila zina dan riba sudah menjadi perbuatan umum dalam suatu negri, maka hal tersebut berarti penduduknya telah menghalalkan azab Allah." na'uzubillahi min zalik deh. So, sebaiknya kita menjaga generasi muda agar tidak terjerumus ke hal yang negatif apalagi zina. Ga usah ngizinan anak kita pacaran, kalo udah mampu nikah aja deech..
Saya jadi pengen melampirkan terjemahan Surat Al Isra ayat 32," Dan janganlah kamu mendekati zina, (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji dan jalan yang buruk."
Trus bagaimana sikap Islam sendiri?
Dikarenakan bahayanya yang mengancam eksistensi manusia dimuka bumi ini, secara siapa saja bisa terkena (ga pandang bulu, merah hitam ijo..he..emang ada yah), maka HIV/AIDS dinilai sebagai bahaya global. Islam sangat serius lho dengan masalah ini, ga main2...(emang Islam pernah main2???)
Eutanasia sebuah dilema
Sudah pada tau dunk ama istilah yang satu ini?? Ini istilah halus dari membunuh. Eutanasia dapat dilakukan secara pasif n aktif. Biasanya hal yang satu ini akan muncul kalo seseorang udah ga sabar lagi, dia merasa mudharatnya lebih banyak dari manfaatnya. Islam tidak ada tawar menawar dalam hal ini, Eutanasia TIDAK DIBENARKAN.
* Hidup dan mati manusia adalah di tangan Sang Khalik Al Muluk ayat 2, " Allah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa Maha Pengampun"
* Islam melarang pembunuhan kecuali yang hak Al An'am ayat 151,"...janganlah kamu membunuh orang yang diharamkan Allah, kecuali dengan alasan yang benar...."
Ada yang menyetarakan Qiyas seorang ibu (menderita HIV/AIDS) yang sedang hamil sama dengan ibu hamil yang membahayakan jiwa calon ibu dan anak. Hal ini salah total, penderita HIV/AIDS yang hamil bukanlah kondisi darurat yang menyebabkan bolehnya eutanasia. So, ga boleh mengugurkan kandungannya. Firman Allah dalam surat Al Isra ayat 31 yang artinya, "dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin...."
So, diperlukan ahlinya (paramedis) dalam hal ini.
* Islam melarang kita putus asa
Yusuf ayat 87,"..dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah hanyalah orang-orang yang kafir."
* Islam mengajarkan untuk sabar dan tawakkal menghadapi musibah
Luqman ayat 17,"...bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting."
Khitan bagi penderita HIV/AIDS
Boleh saja khitan buat anak ini, toh dia muslim kan. Tentunya, lagi-lagi, harus ditangani sama ahlinya.
Memandikan jenazah penderita HIV/AIDS
Mengurus jenazah kan fardhu kifayah. Ga pandang apakah HIV atau ga. Perlu diperhatikan perlindungan diri bagi yang memandikannya. Tenang aja, belum ada kasus orang tertular karena memandikahn jenazah ko...he..he..
Bicara tentang kasus, saya jadi teringat sebuah kasus menarik. "Kecelakaan di depan mata, hati tergerak menolong korban. Namun kita ga tau dunk dia penyakitan to ga. Nah apa yang akan kita lakukan, tolong atau ga??
Sekedar info saja, ada kasus seorang paramedis tertular HIV karena menolong korban kecelakaan. Si korbar patah tulang terbuka, tulang korban melukai sang paramedis.
Bukan menakut-nakuti siapa yang mau menolong lho!! hanya mengingatkan agar waspada.. waspadalah waspadalah dengan aksen bang napi
Wah...ternyata banyak sekalee ya permasalahannya. Intinya cegah HIV/AIDS.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar